Kumpulan Contoh Cerpen Cinta Sedih Romantis Terbaik Singkat Terbaru

Cinta Datang Terlambat

Mira saat itu duduk di bangku SMA kelas 10. Mira adalah gadis yang polos, belum pernah merasakan jatuh cinta apalagi pacaran. Bukan karena Mira tidak laku tapi memang sejak dulu orang tuanya tak mengizinkan dia untuk berpacaran dan Mira menuruti apa yang dilarang orang tuanya itu. Biasanya anak remaja senang hang out ke mall, ke toko buku, atau kemana pun dengan teman-temannya, tapi tidak dengan Mira. Mira tak begitu suka dengan keramaian. Dia lebih betah di dalam rumah dan online di jejaring sosial. Seolah-olah dia hidup di dunia maya karena disitu dia mempunyai lebih banyak teman. Mira lebih suka berinteraksi lewat dunia maya daripada di dunia nyata. Keesokan harinya di dalam kelas saat pelajaran seni budaya Mira mendapat sms dari seseorang.

“Selamat pagi..” isi sms tersebut.
“Nomor siapa sih ini kok gak ada namanya?”, tanda tanya di pikiran Mira. Dan kemudian Mira membalas sms tersebut.
“Selamat pagi juga, maaf ini siapa?”, Tanya si Mira.
“Aku Dani”, balas cowok itu.
“Ehmm.. Dani temen SMP ku dulu?”, sambil mengingat-ingat wajah cowok itu.
“Hehe ternyata kamu masih ingat sama aku”, balas cowok itu.
“Ya ingat dong.. Hehe darimana kamu dapat nomor HP aku?”, tanya si Mira.
“Aku minta ke Amel waktu buka puasa bersama bulan lalu.”, jawab si cowok itu.
“Oh begitu ceritanya, ngomong-ngomong ada apa kamu sms aku?”, balas si Mira.
“Cuma ingin silaturahmi aja sama kamu, gapapa kan?”, balas si cowok tersebut.
“gapapa kok, tapi maaf kita lanjutin nanti aja ya ngobrolnya soalnya lagi pelajaran nih”, jelas si Mira yang mencoba memberi pengertian kepada Dani.
“Baiklah.. maaf ya kalau aku udah ganggu kamu”, balas si Dani yang mengerti maksud kata Mira. Percakapan singkat via sms tersebut harus ditunda sementara.

Perasaan Mira campur aduk antara bingung, heran, dan kaget mengapa Dani tiba-tiba mengirim sms padanya. Padahal ketika masih duduk di bangku SMP, mereka tidak begitu akrab bahkan mereka jarang berkomunikasi secara langsung. Maklum saja, selama ini Mira belum punya teman dekat cowok, bahkan satu pun tidak ada mungkin itu yang membuat Mira merasa canggung dan minder jika berbicara dengan teman cowoknya. Tapi semua berubah semenjak Dani datang ke kehidupan Mira. Mira mulai membuka dirinya untuk mencoba berinteraksi dengan cowok dan Dani adalah orang pertama yang mampu merubah pemikiran Mira. Ternyata komunikasi antara Mira dan Dani masih terus berlanjut lewat via sms. Keduanya mulai merasa nyaman dan tidak canggung lagi.
“Eh Mir kenapa kok cuacanya mendung ya ?”kata Dani.
“Oh iya nih tiba-tiba kok mendung” jawab Mira sambil melihat ke arah luar jendela.
“ya jelas aja sih kalau mendung, soalnya mataharinya bersembunyi di balik mata kamu hehe”, balas Dani yang mencoba menggombali Mira.
“Hihihi..dasar nih anak kerjaannya gombal mulu”, Mira tersipu malu membaca sms itu.
“Hehe.. gombal dikit lah biar nggak serius-serius amat”, balas Dani.

Semakin hari hubungan Mira dan Dani semakin akrab hingga mereka memutuskan untuk mengikat tali persahabatan. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Hari-hari mereka terasa begitu indah dan bewarna dengan canda tawa yang tercipta. Mira mulai berubah. Dia bukan Mira yang tertutup pada cowok, sekarang teman cowoknya mulai banyak. Dan dia yang sebelumnya tak suka keramaian ataupun hang out dengan temannya, sekarang berbalik 180 derajat. Akhirnya Mira menjadi remaja layak pada umumnya. Persahabatan Mira dan Dani masih terjalin hingga mereka menginjak kelas 12. Suatu ketika Mira dan Dani sedang duduk di taman favorit mereka, tempat dimana biasanya mereka bertemu, mengobrol, dan bergurau.
“Eh Mir aku mau curhat nih”, kata Dani.
“Kamu lagi ada masalah? Masalah apa? Ayo cerita aja aku siap kok dengerin”, jelas Mira dengan rasa penasaran.
“Ehm.. bukan masalah kok, aku Cuma lagi naksir aja sama seorang cewek. Dia adik kelasku di sekolah. Anaknya tuh cantik, ramah, dan semyumnya manis banget”, kata Dani sambil membayangkan wajah gadis itu.
Seketika itu Mira langsung terdiam melamun dan entah kenapa dia merasa sedih setelah mendengar jika Dani jatuh hati pada seorang cewek.
“Mir.. Mira.. helloo.. kamu kok diam sih”, Dani menepuk pundak Mira dan mengacaukan lamunannya.
“Eh iya maaf, kamu tadi bilang apa? Kamu suka sama cewek? Hahaha aku gak percaya kalau kamu bisa jatuh cinta sama cewek”, kata Mira yang mencoba menggoda Dani.
“Eh jangan salah ya, gini-gini aku juga punya hati dan perasaan dong. Iya kalau kamuu.. Ehhhh..peace ! hahaha”, cela Dani pada Mira.
“Sialan kamu ( dengan muka cemberut). Oh iya terus kamu udah nyatain perasaan kamu ke dia?”, nada bicara Mira mulai serius.
“Ehm.. belum sih tapi secepatnya aku bakal nembak dia. Do’ain aku ya semoga dia menerima cintaku”, jelas Dani dengan antusias.
“oh..pasti dong. kalau sahabatku bahagia, aku juga bahagia”, senyum Mira agak terpaksa.

Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Ada yang mengganjal di hati Mira semenjak tadi, seperti ada jarum yang menusuk-nusuk hatinya. Ketika sang purnama menampakkan diri, bintang-bintang gemerlap di langit gelap, Mira duduk termenung di teras rumahnya sambil memandangi fotonya dan Dani. Mira bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ada yang berbeda dengan perasaannya. Sebelumnya dia tak merasakan segelisah itu.
“Tuhan apa arti dari rasaku ini? Rasa ini seperti lebih dari sekedar sahabat. Tapi aku tak mungkin merusak persahabatanku dengan dia hanya karna rasaku ini. Biarlah aku mencintainya dalam diam”, ujar Mira pada dirinya sendiri. Dan akhirnya Mira memutuskan untuk memendam perasaannya itu. Kemudian HP Mira tiba-tiba berbunyi, ternyata itu telepon dari Dani.

“Haduh dia telepon.. kenapa perasaanku jadi gugup gini. Angkat nggak ya? Angkat aja deh. Haloo??” , Mira jadi salah tingkah ketika Dani menelponnya.
“Haloo Mira.. aku mau Tanya nih, boleh nggak?”, ujar Dani.
“iy..yaa…boleh. mau Tanya apa?”, jawab Mira dengan nada bicara yang agak terbata-bata.
“Rencananya besok aku mau nembak dia. Aku mau ngasih surprise. Kamu kan cewek, kira-kira cewek itu suka apa sih?”, Tanya Dani dengan semangatnya.
Tiba-tiba Mira terdiam sejenak dan melamun.
“Halooo.. Mira?? Kok malah diam sih. Aku lagi nanya nih”, kata Dani yang mengagetkan Mira.
“Oh iya maaf, ehmm.. coba kamu kasih bunga mawar. Cewek pasti suka dikasih bunga”, jawab Mira.
“Oh gitu ya, yaudah makasih atas sarannya. Kamu memang sahabatku yang the best deh. Kamu bakal jadi orang pertama yang aku kasih tau kalau dia menerima cintaku”, ujar Dani dengan sumeringah.
“iya iya.. udah ya aku ngantuk nih mau tidur”, jawab Mira yang mencari alasan untuk mengakhiri percakapan mereka.
“Good night Mira, semoga mimpi indah”, ucap Dani sambil tersenyum.
“Good night too”, jawab Mira. Tutt Tutt Tutt
Keesokan harinya, Mira dan Dani bertemu di taman favorit mereka sepulang sekolah. Dani ingin mengatakan kabar gembira pada Mira.
“Aku bahagia banget Mir, ternyata dia menerima cintaku. Akhirnya aku dan dia resmi pacaran. Dia juga suka sama surprise yang aku kasih. Makasih ya atas saran kamu kemarin”, jelas Dani yang tampak sangat bahagia.
“Benarkah? Selamat ya! Kalo kamu bahagia, aku juga bahagia”, ucap Mira sambil tersenyum melihat Dani yang tak pernah sebahagia itu sebelumnya.
“Oh iya, masak nggak ada sih cowok yang kamu taksir? Cerita dong sama aku. Entar gantian deh aku bantuin kamu”, Tanya Dani yang penasaran.
“Ada tapi sayangnya dia baru aja jadian sama cewek lain”, ujar Mira dengan nada kecewa.
“Ya ampun sayang banget sih, tapi tenang aja masih banyak kok cowok lain yang akan mencintai kamu dengan tulus”, kata Dani yang mencoba menghibur Mira tetapi ia tak sadar kalau cowok yang dimaksud Mira adalah dirinya.

Hari pun telah berganti esok. Tetapi hari itu Mira tak terlihat sehat, wajahnya tampak pucat. Meskipun begitu ia tetap memaksakan diri untuk masuk sekolah karena dia tidak mau ketinggalan pelajaran di sekolahnya. Mira adalah murid yang pintar. Ia selalu menjadi juara kelas. Mira tidak pernah absen dan selalu mengerjakan tugas dengan tepat waktu. Saat itu adalah jam istirahat. Tapi Mira memilih tetap didalam kelas ditemani sahabat baiknya, Clara.
“Kamu lagi sakit? Kok wajah kamu kelihatan pucat?”, Tanya Clara.
“Aku gapapa kok, kamu jangan khawatir”, jawab Mira dengan nada yang pelan.
“Kamu yakin gapapa?”, Clara mencoba memastikan kembali keadaan Mira.
“Iya Clara, beneran deh gapapa”, jawab Mira sambil tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.
“Oh iya Mir, gimana perasaan kamu pada Dani? Apakah kamu tak ingin mengatakannya?”, Tanya Clara. Clara adalah satu-satunya orang yang tau tentang perasaan Mira pada Dani.
“Sepertinya tak mungkin. Aku nggak mau persahabatanku dengannya hancur hanya karena aku egois mementingkan perasaanku. Biarkan dia bahagia bersama orang yang dia cintai”, tegas Mira.
“Apa salahnya? Setidaknya dia harus tau tentang perasaanmu meskipun kamu nggak bisa memilikinya”, ujar Clara yang mencoba meyakinkan Mira.
“Tidak Clara, karena bagiku persahabatan diatas segalanya. Mempertahankannya tak semudah menghancurkannya”, tegas Mira untuk kesekian kalinya.
“Yaudah kalau itu mau kamu, aku bisa memahaminya”, tersenyum menatap Mira.

Ujian kelulusan mereka telah dekat, dan hal tersebut menentukan siswa untuk bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Dani bercita-cita untuk kuliah di luar negeri dan menjadi sarjana kedokteran. Maka dari itu Dani sangat bersemangat untuk mempersiapkan ujiannya agar ia lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya. Setiap hari Dani belajar bersama dengan Mira. Sebenarnya Dani bukan termasuk siswa yang pintar tapi berkat kemauannya yang keras, usaha dan do’a yang tak henti, serta Mira yang membantunya dalam belajar, semuanya bisa ia capai. Akhirnya tiba pengumuman kelulusan dan ternyata hasilnya sangat memuaskan. Dani lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya. Dan dia tak sabar memberi tahu Mira kabar membanggakan itu. Tak lama kemudian Dani mengajak Mira bertemu di Taman. Mira sudah menunggu Dani dibangku taman.
“Miraa..!”, teriak Dani dengan antusias dan langsung memeluk Mira.
“Gimana hasilnya?”, Tanya Mira yang penasaran.
“A..ku lulus Mir, bahkan aku lulus dengan nilai terbaik di sekolahku. Makasih ya Mir, selama ini kamu udah banyak bantuin aku”, Dani tersenyum bahagia menceritakan kepada Mira.
“Wah.. selamat ! aku bangga sama kamu. Ini semua berkat usahamu sendiri kok”, jawab Mira yang ikut bahagia.
“Tapi besok aku harus berangkat ke New York untuk melanjutkan kuliahku disana”, ujar Dani. Wajahnya berubah jadi sedih.
“Bagus dong. Kamu harus janji sama aku ya. Ketika kamu pulang ke Indonesia, kamu harus membawa gelar sarjana doktermu. Kamu harus jadi orang sukses. Dan Aku ingin kamu mengabdikan dirimu untuk orang-orang sakit yang membutuhkan pertolonganmu”, pinta Mira kepada Dani.
“Pasti Mir, pasti. Aku janji sama kamu akan pulang dengan sarjana dokterku. Dan aku janji, kamu adalah orang pertama yang akan aku temui”, ucap janji Dani kepada Mira.

Karena Dani tidak mau menjalin hubungan jarak jauh maka dari itu dia memilih untuk putus dengan pacarnya. Dan hari itu Dani akan berangkat ke New York. Tapi entah kenapa Mira tidak ikut mengantarkannya ke bandara. Padahal Dani ingin bertemu Mira sebelum pesawatnya boarding. Tetapi Mira tidak akan datang. Dani merasa agak kecewa karena sahabatnya tidak mengucapkan selamat jalan untuknya. Tahun demi tahun berganti, dan 5 tahun berlalu begitu cepat. Akhirnya Dani berhasil menyelesaikan studinya di New York dan ia lulus sarjana dengan gelar dokter. Dani sangat bahagia karena ia akan segera pulang ke Indonesia dan tak sabar ingin melepas rindu kepada sahabat terbaiknya Mira. Kemudian pesawat Dani tiba di bandara dan seperti janjinya, Mira adalah orang pertama yang akan ia temui. Akhirnya ia sampai di rumah Mira.
“Tok..Tok..Tok..”, Dani mengetuk pintu rumah Mira.
“Eh nak Dani, kapan kamu pulang dari New York?”, Tanya mama Mira.
“Barusan aja kok tante. Oh iya Mira ada tante?”, Tanya Dani dengan wajah yang tampak semangat.
“Duduklah dulu nak”, mama Mira tak menjawab pertanyaan Dani. Setelah itu mama Mira memberi Dani sebuah buku. Yah, itu adalah buku diary Mira.
“Apa ini tante?”, Tanya Dani yang bingung kenapa mama Mira memberinya sebuah buku diary. Lalu Dani pun membacanya dengan seksama tiap halaman buku diary itu.
“Jadi selama ini Mira mencintai saya tapi dia tak berani mengatakannya? Berarti cowok yang ditaksir Mira waktu itu adalah saya?”, Tanya Dani yang tak menyangka setelah membaca isi diary itu.
“Iya nak Dani. Mira tak mau menghancurkan persahabatan kalian. Maka dari itu dia memilih untuk memendam perasaannya kepada nak Dani”, jelas mama Mira dengan air mata yang menetes di pipinya.
“Ya Tuhan.. kenapa aku bodoh sekali ! kenapa dulu aku tidak menyadari maksud perkataan Mira. Sekarang aku yakin kalau Mira adalah cinta sejatiku. Aku tidak mau menyia-nyiakannya lagi. Sekarang Mira dimana tante?”, Tanya Dani yang ingin segera mengatakan pada Mira bahwa ia juga mencintainya.
“Ayo ikut tante. Tante akan mengantarkanmu bertemu Mira”, ajak mama Mira. Dan beberapa saat kemudian mama Mira dan Dani tiba di suatu tempat.
“Loh tante ngapain ngajak saya kesini? Saya kan mau ketemu Mira”, Tanya Dani yang kebingungan.
“Ini kuburan Mira”, jawab mama Mira. Air mata mama Mira seketika pecah.
“Apa tante? Jadi Mira sudah meninggal?”, hati Dani langsung hancur ketika membaca nisan yang bertuliskan nama Mira.
“Iya nak Dani. 6 tahun yang lalu Mira menderita kanker. Tapi dia menyembunyikannya dari tante,mungkin kamu juga”, jelas mama Mira yang tak henti menangis.
“Maafkan aku Mira ! aku emang bodoh bodoh bodoh! aku tak sadar kalau kamu mencintaiku. Seperti janjiku, aku telah pulang membawa gelar dokterku. Ini semua untuk kamu Mir. Aku janji akan memenuhi permintaan terakhirmu. Aku akan mengabdikan diriku untuk orang-orang yang membutuhkan pertolonganku”, janji Dani dan terus menyalahkan dirinya sendiri.

Dan pada akhirnya Dani menyadari bahwa orang yang dicintai Mira adalah dirinya sendiri. Tetapi semua terlambat. Seberapa keras ia menyalahkan dirinya, semua takkan kembali. Bukan Mira yang ia temui melainkan nisan yang bertuliskan nama Mira. Dani tak pernah menyangka jika hari itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Mira. Mira telah pergi untuk selamanya dengan membawa cinta yang belum sempat ia katakan pada Dani.