Kumpulan Contoh Cerpen Cinta Sedih Romantis Terbaik Singkat Terbaru

Tak Cukup Hanya Setangkai Mawar

1 Tangkai Mawar
Pekerjaan menjadi seorang jurnalis cukup memberatkan. Berlari kesana-sini mencari berita atau informasi yang akan dijadikan topik kehidupan. Belum lagi dengan sinar matahari terik yang menyengat kulit. Namun bagi Pandhu, itu adalah pekerjaan yang paling menyenangkan. Menjadi seorang jurnalis membuatnya tahu banyak hal akan dunia ini. Meskipun tidak semuanya. Tapi yang terpenting adalah Pandhu tahu apa yang harus dilakukan jika ia mengalami potret kehidupan yang telah ia lihat.

Hari ini… 3 Mei 2015… Pandhu kembali menjalankan tugasnya seperti biasa. Potret kehidupan yang harus dicarinya berada di Taman Kota. Sekitar pukul 9 pagi, Taman Kota itu telah dipenuhi puluhan umat manusia. Yang paling dominan adalah mahasiswa. Mereka membentuk kelompok tak menentu dan berhadapan dengan pengarahnya diberbagai sudut. Ditemani berbagai macam bunga yang indah dan beraroma wangi. Ya… Disana terdapat bazar bunga. Entah dalam rangka apa, tapi bazar itu cukup menarik perhatian orang-orang.

Pandhu menarik napas dalam-dalam. Merasakan wangi berbagai macam bunga dan aroma rerumputan akibat embun pagi. Ia memegang kamera yang telah dibelinya beberapa minggu lalu. Sekilas senyuman mengukir diwajahnya. Pandu merasakan kembali potret kehidupan yang sangat berkesan dihidupnya. Lebih berkesan dilubuk hatinya dari potret kehidupan manapun. Entah apa yang menyebabkan perasaan itu… Mungkin Pandhu akan menemukan hal yang menarik…

Pandhu mengaktifkan kameranya. Ia mulai mengambil foto dari segala arah. Sudah ada sekitar 5 foto yang ada didalam kamera itu. Ketika ia akan mengambil foto ke 6, sesuatu terjadi. Pandhu tidak melepaskan kameranya. Tapi fokusnya berhenti pada seorang gadis berumur 23 tahun. Gadis itu terlihat anggun dengan dengan jilbabnya yang syar’i.

Menutup semua aurat hingga tak dapat dilihat celanya. Pakaiannya berupa gamis berenda mawar yang panjang menutupi mata kaki. Sangat sederhana. Tapi kecantikan sederhana itu bisa membuat bidadari-bidadari surga cemburu melihatnya.
1 foto… 2 foto… 5 foto… 10 foto… Foto gadis itu telah memenuhi kameranya. Menjadi foto dominan dari 5 foto bazar yang ia ambil sebelumnya. Ketika mengambil foto selanjutnya, gadis itu menghilang di kerumunan orang banyak. Pandhu melepaskan kameranya. Matanya tak henti mencari gadis itu. Setelah beberapa menit, Pandhu tersadar. Ia lupa akan tugasnya. Segera saja pemuda itu pergi untuk wawancara kepada beberapa pengunjung dan pelaksana. Hanya 30 menit wawancaranya selesai. Kini data-data yang diperlukan telah ia peroleh. Sebagai hadiah dari pelaksana, Pandhu mendapatkan setangkai mawar merah dan harus memberikannya kepada seseorang yang spesial. Pengunjung lain terutama yang laki-laki mendapat mawar merah juga dan mereka mulai memberikan kepada pasangannya masing-masing.

Itu adalah sebuah permainan yang menarik. Memberikan mawar kepada pujaan hati dapat mempererat cinta mereka. Tapi satu yang Pandhu bingungkan. Kepada siapakah mawar ini harus diberikan?

Dengan langkah biasa, Pandhu berjalan diantara pengunjung bazar. Ia terus memegang mawarnya. Kelihatannya cuma ia sendiri yang belum memberikan mawar kepada yang spesial. Tapi ia tetap berjalan menembus kerumunan itu. Mawar yang ia genggam tetap terlihat cantik dan segar. Sangat disayangkan untuk dibuang. Tapi kalaupun mau diberi, kepada siapa?

Langkahnya itu telah membuatnya menjauh dari keramaian. Pandangannya tetap kedepan dengan pikiran yang masih bergelayut tentang mawar. Tapi hasilnya adalah jalan buntu di sebuah labirin. Selang beberapa lama berjalan, senyuman kembali mengukir diwajahnya. Ia menatap fokus layaknya kamera kepada gadis yang menjadi objek fotonya. Gadis itu duduk menyendiri dibangku taman yang panjang. Pandhu tahu kepada siapa mawar itu harus diberikan. Gadis berjilbab itulah yang berhak menerimanya.

Pandhu berjalan lurus menuju tempat gadis itu. Dengan semangat, ia menggenggam mawarnya. Langkahnya semakin dekat dengan sang gadis yang tak dikenalnya. Tiba dilangkah terakhir, ia memberikan mawarnya. Tentu saja gadis itu bingung melihat tingkah Pandhu yang tak dikenalnya.

“Ini mawar untukmu…”ucap Pandhu kepada sang gadis…

3 Tangkai Mawar
Beberapa bulan kemudian…
Pandhu duduk menyendiri di cafe kesukaannya. Sesekali ia menyeruput es jeruk yang telah dipesan. Terkadang ia juga memperhatikan jam yang melingkar ditangan kirinya. Detik demi detik terus berlalu. Pemuda itu menunggu seseorang sejak dua jam lamanya. Tapi rasanya, ia tidak bosan untuk menunggu. Karena yang ditunggu adalah pujaan hati yang telah dikenalnya beberapa bulan lalu.

Sebenarnya mereka janji untuk bertemu pada pukul 2 siang di cafe itu. Tapi, Pandhu telah berada disana pada pukul 12. Setengah jam kemudian, ia menuju musholla terdekat untuk shalat dzuhur dan pergi ke toko bunga untuk membeli tiga tangkai mawar. Lalu kembali lagi ke tempat itu.

Penantian Pandhu selama dua jam itu membuahkan hasil. Matanya yang tak pernah lepas dari pintu cafe menangkap seorang gadis berjilbab. Gadis itu mengedarkan pandangannya kesegala arah. Mencari seseorang yang duduk menyendiri. Ia tersenyum manis melihat seseorang yang melambaikan tangan padanya. Segera ia melangkah sambil menggenggam tali tasnya.
“Sudah lama menunggu, Pandhu?”Gadis itu menyunggingkan senyumnya yang indah.
“Tidak, Asma… Silahkan duduk..”Asma hanya tersenyum. Lekas saja ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Pandhu.
“Jadi… Apakah kamu ada urusan denganku, Pandhu?”
“Ah, tidak… Aku hanya ingin mengajakmu makan siang, Asma… Tidak masalah, kan?”
“Tentu, Pandhu… Ajakan juga merupakan undangan.. Dan itu adalah hak setiap muslim untuk memenuhinya… Oh ya.. Kamu sudah sholat, kan?”
“Sudah, Asma… Aku sholat di musholla dekat sini..”jelas Pandu.
“Itu bagus, Pandhu…”Asma memuji pemuda didepannya. Senyuman juga menghiasi wajahnya yang cantik.
“Hmm.. Kita pesan apa, Asma?”
“Terserah kamu, Pandhu…”
Pandhu hanya mengangguk. Ia memanggil pelayan cafe untuk mencatat pesanan mereka. Lima menit kemudian, pelayan cafe itu berlalu dengan pesanan mereka.
Keadaan menjadi hening antara Pandhu dan Asma. Mereka saling diam dan canggung. Padahal suasana cafe cukup ramai. Maupun Pandhu atau Asma tidak ada yang memulai pembicaraan. Keadaan itu tetap hening hingga pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
“Mari kita makan…”Pandhu memulai pembicaraan.
“Jangan lupa berdoa dulu, Pandhu…”Asma mengingatkan adab islam dalam makan. Pandhu tersenyum malu. Asma benar. Lalu mereka menadahkan tangan dan berdoa dalam hati dengan khusyuk.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu, Pandu?”Asma bertanya disela-sela makan siang mereka.
“Alhamdulillah.. Sangat baik.. Bagaimana denganmu, Asma? Aku yakin usaha bakery mu berjalan lancar..”
“Alhamdulillah juga.. Aku mempunyai resep baru untuk toko kecilku itu. Mungkin kamu bisa menjadi pencicip pertama sebelum ku promote ke pelanggan…”
“Tentu bisa, Asma… Aku yakin resep itu sangat enak seperti kue-kue mu lainnya..”
“Aamiin…”ucap Asma.
Mereka kembali melanjutkan makan siangnya. Tentu saja suasana tidak canggung seperti tadi. Pembicaraan demi pembicaraan menemani makan siang itu. Terkadang Pandhu menceritakan kejadian lucu dan membuat Asma tertawa sekedarnya..
Tanpa terasa, makan siang mereka berakhir pukul 3. Pandhu membayar semua makanan mereka. Setelahnya, ia dan Asma berjalan beriringan keluar cafe.
“Oh ya… Terima kasih makan siangnya ya.. Lain kali aku yang traktir, Du..”
“Tidak perlu dipikirkan, Asma.. Kebetulan aku ada kelebihan rezeki. Jadi, aku berinisiatif mengajakmu makan siang…”
“Begitu.. Lebih baik kalau kamu ada kelebihan rezeki, sumbangkan aja ke anak yatim atau fakir miskin… Sangat berfaedah, Du… Juga mendapat pahala…”jelas Asma.
“Baiklah, Asma…”Pandhu merespon baik nasehat gadis itu.
“Kalau begitu, aku pulang ya…”
“Eh, Asma.. Aku ada sesuatu untukmu…”Pandhu membuka tas ranselnya. Ia mengeluarkan tiga tangkai mawar dan memberikannya kepada gadis itu.
“Ini apa, Du?”tanya Asma sambil mengerutkan dahinya.
“Ini mawar, Asma.. Masa’kamu tidak tahu…”
“Tentu aku tahu.. Tapi untuk apa kamu memberikan mawar-mawar ini padaku?”
“Hmm.. Kukira mawar dapat mempererat persahabatan kita..”Asma hanya tersenyum mendengarnya. Gadis itu menerima tiga mawar itu dari tangan Pandhu. Setelahnya, ia berpamitan untuk pulang.
Pandhu tersenyum senang setelah memberikan mawar-mawar itu. Ia menatap Asma yang semakin jauh dari pandangannya. Sedangkan gadis itu menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah…

10 Tangkai Mawar…
Rabu sore yang indah… Cahaya matahari yang condong kebarat itu menyusup dedaunan pohon-pohon ketapang. Cahaya itu juga menembus jendela kantor tempat Pandhu bekerja. Memberikan sedikit semangat untuk aktivitas beberapa karyawan yang bekerja disana. Termasuk Pandhu. Dari pagi hingga sore pukul 3, pemuda itu belum menghentikan aktivitasnya. Ia masih sibuk dengan komputer, dokumen dan alat-alat kantor didekatnya. Sepanjang hari ini, ia terus bekerja. Menantang waktu yang seakan bergerak lambat. Beberapa tugas yang tertunda karena salah seorang karyawan kantor tidak datang menjadi tanggung jawabnya.

“Daritadi kamu sibuk terus tanpa henti, Du… Lebih baik kamu istirahat..”Mbak Vina mengeluarkan suaranya tiba-tiba.
“Nanggung, mbak.. Bentar lagi selesai..”
“Hhhh.. Kamu tak pernah nurut, Du… Kalau sakit, mbak gak peduli ya…”
“Iya, mbak…”
“Oh ya.. Selesai ini kamu langsung pulang, kan??”
“Tidak, mbak.. Aku mau menemui Asma…”
“Gadis itu lagi.. Kenapa kamu tidak mengenalkannya pada mbak?”
“Belum saatnya..”Pandhu terus memperhatikan dokumen kerjanya.
“Oh.. Mbak tahu.. Kamu ingin menikah dengannya, kan?”
“Mbak bicara apa sih… Aku sama Asma cuma teman..”
“Hhhh.. Terserahmu, Du.. Pokoknya kalau kamu menikah, undang mbak.. Mbak pulang dulu ya..”
“Ya, Mbak…”

Pandhu kembali melanjutkan tugasnya. Tangannya mahir diatas keyboard mengetik dokumen kerjanya. Ia tak ingin berhenti. Hasil kerjanya harus diantar ke editor besok siang. Padahal masih banyak waktu untuk melanjutkannya. Tapi begitulah Pandhu. Ia tidak mau menunda pekerjaan. Kecuali untuk sholat dan makan.

Setelah 30 menit, Pandhu telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia bergegas pergi sambil meraih ransel diatas meja kerjanya. Sore ini ia akan menemui Asma. Sebelumnya, ia sholat asyar dulu. Karena azan telah bergema memanggil umat muslim.

Selesai sholat, Pandhu melajukan motornya menuju bakery Asma. Ia juga telah membeli 10 tangkai mawar untuk gadis pujaannya. Sekitar setengah jam ia sampai di sebuah toko mungil sederhana. Pandhu memarkirkan motornya di halaman bakery. Setelahnya, ia memasuki toko. Suara gemerincing lonceng terdengar nyaring ditelinganya.

“Hai, Asma…”
“Pandhu… Kamu kapan datangnya??”
“Baru sampai… Mungkin aku bisa mencicipi resep barumu itu..”canda Pandhu.
“Ah, iya… Kamu duduk dulu.. Aku ambilkan dari panggangan…”
Pandhu menganggukan kepalanya. Segera saja ia duduk menghadap etalase yang penuh dengan bermacam-macam kue yang lezat. Beberapa menit kemudian, Asma datang dengan nampan berisi kue hasil resep barunya dan segelas es jeruk.
“Aku coba ya, Asma…”
“Silahkan…”Asma tersenyum menanggapi perkataan Pandhu. Pemuda itu memasukkan potong demi potong kue itu kedalam mulutnya. Merasakan aroma keji dan kentang bersamaan dilidahnya.
“Bagaimana rasanya, Du?”tanya Asma
“Lezat… Sama seperti kue-kuemu yang lainnya.”
“Benarkah?”Asma tidak percaya dengan yang dikatakan Pandu.
“Tentu.. Kamu belum mencicipinya?”
“Belum…”
“Kebiasaan deh.. Seharusnya kamu cicipi dulu, Asma…”
“Iya deh, Du… Oh ya.. Bagaimana harimu?”
“Cukup melelahkan… Banyak tugas kantor yang harus diselesaikan… Beruntung aku tidak lembur…”
“Tapi kamu hebat, Du… Pasti tugas-tugas itu dapat kamu selesaikan dengan baik…”
“Alhamdulillah.. Kamu sendiri?”
“Sibuk juga… Hari ini pesanan sangat banyak.. Pelangganku juga bertambah. Jadi kewalahan deh…”
“Begitulah Allah, Asma.. Dia selalu mempunyai cara untuk memberi rezeki pada hamba-Nya..”
“Kamu benar, Du… Maka dari itu, kita harus besyukur terhadap rezeki yang telah diberikannya…”
“Setuju, Nona Asma…”
“Asma saja, Du… Eh, kamu sudah sholat, kan?”
“Sudah, Asma… Hmmm.. Aku pulang ya… Mau istirahat…”
“Cepat banget. Padahal kita baru mengobrol.. Tapi, tak apa… Toh kamu baru selesai kerja..”Gadis itu berdiri mengantarkan Pandhu hingga kehalaman toko.
“Terima kasih kuenya, Asma… Lain kali kalau butuh pencicip, hubungi aku… Dan jangan lupa kamu cicipi setiap kue yang dibuat…”
“Iya deh, Pandhu…”
“Oh ya… Ada yang lupa…”Pandhu membuka ranselnya dan mengeluarkan 10 tangkai mawar yang ia beli di toko.”Ini untukmu…”
“Mawar lagi? Untuk apa kamu memberikan mawar-mawar ini, Du?”
“Seperti biasa… Untuk mempererat persahabatan kita…”
Asma menerima mawar-mawar itu. Ia masih bingung dengan sikap Pandu yang memberikan bunga untuk ketiga kalinya. Tapi rona wajahnya yang memerah ia sembunyikan…

13 Tangkai Mawar
Minggu indah diakhir Februari. Taman kota dipenuhi oleh orang-orangnya. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka berkumpul membentuk suatu kelompok yang disebut dengan keluarga. Ditemani tikar sebagai alas untuk duduk dan beberapa makanan layaknya piknik kecil. Suasana bertambah indah saat pohon akasia menggugurkan daunnya karena ditiup angin pagi. Ditambah lagi dengan bunga-bunga bermekaran yang ikut menyemarakkan hari.

Pandhu dan Asma melangkah kaki mereka bersama diatas setapak jalan kecil menuju jembatan. Memandang lurus kedepan sambil membicarakan perihal hidup masing-masing. Canda tawa juga menghiasi pembicaraan mereka. Suasana tidak canggung seperti biasanya. Mungkin karena indahnya hari membuat mereka lebih santai dan lebih menikmati kebersamaan.

“Oh ya, Asma.. Apakah kamu masih ingat bagaimana awal pertemuan kita?”Pandhu menyinggung sedikit masa lalu mereka beberapa bulan yang lalu.
“Hmm.. Pertemuan kita, ya?”Asma mempermainkan pembicaraan mereka sambil tersenyum manis.
“Ayolah, Asma.. Kamu ingat, kan?”Pandhu memburu kalimatnya.
“Iya deh, Pandhu… Aku ingat… Memang kenapa?”
“Bagaimana menurutmu?”
“Kukira itu adalah pertemuan aneh yang baru kualami seumur hidupku.”
“Pertemuan aneh?”
“Iya, Pandhu… Sangat aneh menurutku… Tiba-tiba saja kamu mengajakku berkenalan dengan memberiku mawar dan berkata,’ini mawar untukmu..’. Padahal kita belum pernah bertemu…”
“Ah iya, Asma… Dan yang membuatku malu adalah kamu menolak jabat tanganku sebagai perkenalan kita. Lalu, kamu menjaga jarak dariku.”
“Bagaimana mungkin aku tidak melakukan itu, Pandhu? Pertama, kamu datang dan membuatku takut dengan tindakanmu.. Kedua, kita bukan mukhrim.. Jadi haram untuk bersentuhan…”jelas Asma.
Pandhu hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi perkataan Asma. Dalam hati, ia hanya menahan geli mengingat awal pertemuan mereka yang aneh dan lucu itu. Menarik memori lalu tentang wajah Asma yang bingung dengan tindakannya yang konyol itu.
“Oh ya, Pandhu… Waktu itu, kenapa kamu memberiku mawar?”pertanyaan Asma yang tiba-tiba mengejutkan memorinya.
“Hanya perkenalan saja, Asma…”
“Memang kalau kamu ingin berkenalan selalu memberi mawar?”
“Tidak juga?”
“Lalu?”
“Kamu penasaran ya?”
“Tentu, Pandhu..”desak Asma lagi.
“Suatu saat nanti kamu akan tahu…”

Asma hanya diam mendengar ucapan Pandhu. Ia tak ingin lagi memaksa jawaban dari Pandhu. Mungkin itu adalah rahasianya. Walau Asma sangat ingin mengetahui maksud pemuda itu. Tapi, adakalanya menjadi penasaran lebih menyenangkan dari pada mengetahui segalanya.
“Kita ketoko bunga, yuk… Ada yang ingin kubeli…”Pandhu kembali memecahkan keheningan diantara mereka. Sedangkan Asma hanya mengangguk menanggapinya.
Pasangan sejoli ini berjalan memutari arah mereka sejak awal. Mencoba mengelilingi taman kota saat pagi masih bersinar. Merasakan aroma rerumputan dan bunga yang wangi. Kaki-kaki mereka melangkah beriringan menuju toko bunga diujung jalan. Setelah 30 menit, langkah mereka berakhir didepan toko kecil yang penuh dengan warna-warni kelopak indah.
“Pak… Bunga mawarnya 13 tangkai, ya…”
Penjaga tua itu lekas merangkai mawar-mawar ditokoya yang mungil. Tangannya yang keriput begitu mahir menyusun mawar demi mawar. Tidak butuh lama… Sebuket mawar itu diberikannya pada Pandhu.
“Indah kan, Asma?”tanya Pandhu sambil menunjukkan rangkaian mawar itu.
“Iya, Pandhu..”
“Kamu menyukainya? Kalau iya, untukmu saja..”
Gadis itu terkejut melihat tingkah Pandhu yang kembali memberikan mawar. Dia hanya mengulurkan tangan dan menerima mawar-mawar merah itu…

24 Tangkai Mawar
Hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Menghidupkan kembali tanah yang gersang. Membasahi rerumputan dan bunga-bunga taman yang menunduk layu. Suaranya terdengar samar dengan gemuruh petir dicakrawala. Menggetarkan jiwa setiap orang yang melamun dalam mimpinya.

Asma mengangkat kue dari panggangan. Lalu berjalan tergesa-gesa menuju etalase. Meletakkan kue-kue itu didalamnya. Hujan seperti ini disiang hari membuat tokonya ramai pengunjung. Tentunya ia dan dua temannya sibuk dengan bisnis itu. Hampir saja mereka kewalahan menghadapi permintaan pengunjung yang lumayan banyak. Namun, Asma selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah terhadap garis rezekinya.

Hingga pukul 1 siang, toko Asma perlahan mulai sepi. Pengunjung-pengunjun-g didalamnya tinggal beberapa saja. Menikmati pembicaraan sambil memakan kue mereka. Sedangkan yang lain asyik membaca majalah atau mendengarkan musik. Padahal hujan masih deras diluar sana. Namun entah mengapa, mereka begitu menikmati keadaan masing-masing meski hawa terus menusuk kulit.

“Alhamdulillah ya, Mbak.. Hari ini penghasilan kita melebihi dari sebelumnya.”Dwi, teman Asma setahun lebih muda darinya mengucap syukur.
“Iya, Dwi.. Allah telah memberi kita rezeki dengan cara-Nya tersendiri. Hujan ini merupakan suatu berkah dari-Nya.”Asma menimpali perkataan Dwi dengan nasehatnya. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum menanggapi perkataan Asma.
Mereka kembali bekerja. Melayani pengunjung sepenuh hati. Tersenyum terhadap pesanan orang-orang itu dan memberi apa yang mereka minta. Meski hanya beberapa orang saja, pelayanan tetap diberikan dengan cara terbaik. Membiarkan pengunjung berlama-lama untuk memesan dan sabar menghadapi tingkah mereka yang berbeda-beda. Setelah pukul 3, toko telah kosong dari pengunjung. Menyisakan Asma dan kedua temannya membereskan tempat usaha mereka.
“Oh ya, mbak Asma. Selamat ulang tahun, ya…”ucapan dari Dwi dan Rima mengejutkan gadis berjilbab panjang itu. Ia baru sadar telah melewati hari terpentingnya.
“Astaghfirullah.. Mbak lupa kalau sudah bertambah usia…”
“Mbak terlalu sibuk, sih… Kami minta maaf ya, mbak… Tidak memberikan kado…”Rima melanjutkan kalimatnya.
“Tak apa.. Kalian mengucapkannya-pun sudah membahagiakan.. Terima kasih, ya…”kedua gadis itu menganggukan kepalanya.
“Oh ya, Mbak.. Bagaimana dengan mas Pandhu? Apakah dia tidak memberi hadiah pada mbak?”suara Dwi kembali terdengar ditengah pembicaraan mereka.
“Tidak.. Memang kenapa?”tanya Asma keherenan.
“Mas Pandhu bagaimana sih, Mbak.. Masa’dia tidak memberi hadiah ultah kepada Mbak? Seharusnya sebagai laki-laki, dia memberi hadiah.. Atau jangan-jangan dia tidak tahu kalau hari ini ultah mbak…”Dwi menegaskan perkataanya.
“Kamu tidak boleh begitu, Dwi.. Kita harus hudznuzon terhadap setiap orang.. Mungkin dia tidak tahu…”
“Iyalah, mbak…”Dwi menyerah untuk berkata lagi. Lalu ketiga gadis itu kembali membereskan tokonya. Baru beberapa menit, seseorang memasuki toko. Orang itu seperti kurir dan membawakan sebuket mawar merah didalam jas hujannya.
“Ada apa, Mas?”Asma menyambut kurir itu seperti melayani pelanggannya.
“Anda Asmaul Husna?”kurir itu menyebut nama lengkap gadis itu.
“Betul.. Ada apa ya, Mas?”tanya Asma.
“Ada kiriman, Mbak.. Tolong tandatangani disini..”kurir itu menyerahkan sebuket mawar indah dan memberikan kertas kecil untuk ditandatangani. Asma menerima mawar itu. Lalu menandatangani kertas dari kurir itu.
“Terima kasih, Mbak…”kurir itu pergi meninggalkan toko Asma setelah menyelesaikan tugasnya.
“Dari siapa, Mbak?”Rima memburu Asma dengan pertanyaan.
“Tidak tahu…”jawab Asma sekenanya. Gadis itu melihat-lihat mawar itu. Dia menemukan kartu kecil yang terselip diantara bunga indah yang tersusun rapi. Asma mengambil dan membacanya. Sebuah ucapan indah membuat wajahnya merona merah.

’24 Tangkai Mawar…
Kukira itu hadiah terindah yang cocok untukmu…
Sahabatmu…
Pandhu Nugraha’

108 Tangkai Mawar
Asma menunggu Pandhu dengan gelisah di taman kota. Sudah 2 jam gadis itu berada disana. Tapi Pandhu tak kunjung datang. Dimanakah dia sekarang? Batinnya benar-benar hampir mati menanti Pandhu yang tidak pernah sekalipun melewati waktu janjian mereka. Tapi, Asma berusaha berprangsaka baik. Pandhu akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi sesuatupun dengannya.

Asma tidak bisa menunggu lagi. Lekas saja ia berdiri dari bangku taman yang pudar warnanya. Ia ingin menemui Pandhu dirumahnya. Namun saat detik terakhir itu, hal aneh terjadi…
“Ini mawar untuk kakak…”seorang anak laki-laki menyerahkan setangkai mawar pada Asma dengan senyum yang manis. Asma menerimanya dengan sedikit ragu. Mawar itu memiliki sebuah kartu kecil bertuliskan..

‘1 Tangkai Mawar : Cinta pada Pandangan Pertama’
“Apa maksudnya?”Asma baru sadar. Anak itu telah pergi dari hadapannya. Kini dia kebingungan sendiri menatap mawar merah itu.
Tak berapa lama kemudian, seorang remaja laki-laki datang dan memberikan mawar kepadanya. Asma menerima kelopak merah nan indah itu. Ia kembali menemukan sebuah kartu ucapan.

‘3 Tangkai Mawar : Bearti Aku Cinta Kamu’

Asma kembali bingung. Mengapa ada orang yang memberinya mawar? Biasanya Pandhu yang memberikannya sebagai persahabatan. Belum lepas dari kebingungannya yang kedua, datang lagi seorang pemuda dengan mawar merah. Tanpa bicara, pemuda itu memberikannya kepada Asma dan berlalu pergi. Asma kembali bingung menghadapi tingkah orang yang tidak dikenalnya. Ia melihat kartu ucapan yang terselip diantara mawar itu.

’10 Tangkai Mawar : Kamu Cantik’

“Apa maksud dari semua ini?”kebingungnya bertambah dari tindakan orang ketiga. Dengan susah payah, ia menggenggam mawar-mawar itu.
“Ini mawar untukmu, nak…”seorang bapak kira-kira berumur kepala tiga memberikan mawar kembali pada gadis berjilbab itu. Asma menerimanya sambil tersenyum kebingungan. Sebuket mawar itu menyimpan sebuah kartu ucapan.

’13 Tangkai Mawar : Forever Friend’

“Ini benar-benar membingungkanku…”Asma berusaha menahan sabarnya. Tapi, seorang kakek tua berpakaian rapi datang dan memberi rangkaian mawar yang banyak. Asma kembali menerimanya dan berusaha tersenyum ramah.. Gadis itu menemukan kembali kartu ucapan seperti mawar-mawar sebelumnya.
’24 Tangkai Mawar : Kamu Selalu Ada Dipikiranku 24 Jam Sehari’

“Pandhu.. Ini pasti perbuatanmu… Kamu dimana? Jangan buat aku bingung seperti ini…”Asma berbicara terhadap dirinya sendiri. Kepalanya menghadap kekanan-kekiri untuk mencari Pandhu. Tapi ia tidak menemukannya. Karena lelah, Asma terduduk dibangku taman itu. Ia meletakkan mawar-mawar itu disampingnya. Ditengah kebingungan yang melanda, seorang pemuda berkacamata menhampirinya dan memberikan sebuket mawar merah nan indah yang jumlahnya tak terhitung.
“108 Tangkai Mawar… Maukah Kamu Menikah Denganku?”
Suara Pemuda itu membuat Asma mengangkat kepalanya. Ia melihat Pandhu didepannya dengan membawa mawar yang banyak.
“Pandhu!! Kamu yang melakukan semua ini?”
“Iya, Asma…”Pandhu menjawab pertanyaan gadis pujaan dengan santai.
“Kenapa?”Asma bertanya lagi.
“108 Tangkai Mawar… Maukah Kamu menikah denganku??”
Asma terdiam mendengar perkataan Pandhu. Kini kebingungannya terjawab. Ia meresapi setiap perkataan pemuda jurnalis itu dengan wajah yang merona merah. Dalam hati ia berkata, Mawar terlalu indah untukku dan mempunyai arti tersendiri dari orang yang memberikannya..
“Iya, Pandhu.. Aku mau menikah denganmu…”jawab Asma. Mendengarnya, Pandhu tersenyum bahagia akan cinta dan doa yang dijabah Allah…

3 Mei 2015
Kita dipertemukan Allah dengan mawar dan disatukan Allah dengan mawar juga dalam ikatan suci pernikahan…
Mawar demi mawar itu mempunyai arti. Dan Allah yang menentukan kita bersatu dengan cara ini…
Mungkin”Tak Cukup Hanya Setangkai Mawar”yang menyatukan kita…